Bukit Serelo

Icon dari kota kecil Kabupaten Lahat yang kaya akan Sumber Daya Alam, Budaya dan Bahasa.

Megalith

Peninggalan sejarah yang banyak terdapat di Kabupaten Lahat.

Ayek Lematang

Aliran sungai yang terdapat di Kabupaten Lahat.

Air Terjun

Obyek keindahan alam yang terbanyak di Kabupaten Lahat.

Aktivitas Masyarakat Pedesaan

Kota Lahat yang subur kaya akan hasil perkebunan.

Jumat, 12 April 2013

Pesona Ayek Liem



By Mario Andramartik
Traveler ke 200 kota wisata dunia
Suara siaman terdengar bersaut-sautan dikejauhan, burung bernyanyi menyambut pagi nan cerah. Aku sangat menikmati suasana pagi di perkebunan kopi dengan buah kopi yang masih berwarna hijau. Aku berjalan menyusuri rindangnya kebun kopi. Kadang kala aku harus merunduk atau sedikit berbelok untuk menghindari pepohonan kopi yang tumbuh subur di ketinggian 360 mdpl di dataran tinggi Gumay. Sejak pukul 7 pagi aku keluar rumah bersama dua orang sahabatku untuk menelusuri keindahan alam nan tiada tara dibagian barat Kota Lahat.

Beberapa saat setelah melewati perkebunan kopi kemudian jalanan mulai menurun dan kamipun harus menyusuri dan membuka semak belukar. Dari pengamatanku jalan yang kami telusuri sangat jarang di lalui orang, terlihatAsmarudin yang menjadi pemandu kami terpaksa harus mengeluarkan parang dari sarungnya guna membabat semak belukar yang menghalangi perjalanan kami. Jalanan terus menurun dan suara siaman menemani indahnya perjalanan pagi ini. Sesekali juga aku terdengar burung-burung bernyanyi dengan merdunya. Habitat di sekitar sini masih terjaga dengan baik, lereng terjal yang kami lalui ditumbuhi berbagai tumbuhan antara lain bunga bengkai.
Perjalanan seperti ini sudah aku lakukan beberapa tahun terakhir ini untuk menguak keindahan alam yang dianugerahkan sang Pencipta Alam. Aku sangat senang dan bahagia dapat menikmati keindahan alam yang masih sangat alami dan terdapat di daerah kelahiranku. Sebelumnya aku sempat melihat ratusan tempat-tempat indah yang berada di luar daerahku. Aku merasa ada yang kurang. Kalau selama belasan tahun aku melihat ratusan keindahan alam negeri orang mengapa aku tak tahu keindahan tanah kelahiranku sendiri.
Hari ini untuk ke sekian puluh kalinya, aku harus menembus hutan nan asri dan hijau yang sangat jarang di jamah manusia. Jalanan yang menurun tidak banyak menguras tenagaku, sebelum berangkat aku hanya minum secangkir kopi mix kesukaanku yang selalu disajikan istri tercintaku. Seperti biasa aku berbekal sebotol air mineral yang aku minum setelah selesai penjelajahan.
Tiga puluh menit kemudian kami sampai di ayek Liem dengan airnya nan jernih dan bersih. Kamipun menyusuri tepi ayek dengan melintasi rimbunya semak belukar dan memaksa kami untuk turun ke air. Aku sempat terjatuh ketika mengijak rerumputan yang ternyataadalah lubang. Akupun dipaksa untuk meloncat dari satu batu ke batu lainya juga menyeberangi ayek Liem yang berarus cukup deras. Walau dibantu Bidianda sewaktu aku menyeberang, aku sempat terpeleset. Dan kulihat dengkul bagian kanan kakiku terluka, akan tetapi tak aku rasakan. Rintangan seperti ini tak membuatku jerah dan putus asa.
Bidianda terpaksa melepaskan sepatu dan bajunya, meninggalkannya ditepi sungai untuk melanjutkan menyusuri sungai. Dengan sepuntung rokok ditangan dan sesekali menghisapnya Bidianda tetap semangat. Yudha yang telah beberapa kali bersamaku melakukan jelajah alam tak pernah putus asa. Dia sangat antusias bila aku ajak jelajah alam walau harus menembus medan yang sangat berat. Perjalanan kali ini lebih mudah di banding penjelajahan di dua tempat sebelumnya.
Subhallah, begitulah kata-kata pertama yang terucap dari mulutku ketika aku melihat pesona ayek Liem. Air nan putih, jernih dan bersih bah kapas dengan lebar sekitar 5 m jatuh dengan derasnya dan bersuara gemuruh dari ketinggian sekitar 35 m dan membuat butir-butir air sampai kejauhan 40 m.
Asmarudin dan Bidianda telah berada tepat ditengah pulau, Yudha sedang duduk di atas sebuah batu besar berukuran sebesar mobil jeep sambil mencatat data-data yang dianggap perlu. Sedang aku masih sibuk dengan kamera D80ku merekam setiap sudutayek Liem. Tak cukup dengan satu dua jepretan, aku terus berburu mengambil sudut-sudut terindah.
Setelah sekian kali jepretan, aku kembalikan kameraku ke dalam tas kamera dan aku berjalan menuju ke Asmarudin, Bidianda dan Yudha yang telah lebih dulu berada di tengah pulau. Sesampai di sana aku disuguhkan durian yang baru saja dibuka, tapi sayang duriannya masih mentah. Durian ini telah ada di pulau ini terbawa aliran sungai. Kami berempat menikmati durian mentah dan sebungkus roti.
Tepat dihadapan kami tersuguh pesona nan indah “Air Terjun Panjang”.Air terjun berair jernih, bersih dan berarus deras jatuh membentuk sebuah telaga dan mengalir ke arah kanan dan kiri sehingga membentuk sebuah pulau di tengahnya. Menurut Asmarudin dahulunya pulau tempat kami berada berupa aliran ayek Liem akan tetapi karena perubahan alam dan terbentuklah pulau dengan luas sekitar 10 m persegi. Pulau berbatu kerikil tepat berada ditengah ayek Liem dan menghadap ke air terjun.
Setelah beberapa saat menikmati durian mentah  kemudian aku ambil lagi kameraku dan aku arahkan ke air terjun. Aku minta kawan-kawanku untuk berpose ria dengan background air terjun. Beberapa kali aku harus membersihkan lensa kameraku dari titik-titik air yang jatuh dari air terjun.
Setelah merasa puas, kamipun bergegas dan kembali menyusuri tepi sungai. Kami beberapa kali berhenti untuk berpose ria di tepi ayek Liem. Tak terasa telah 2 jam lebih berada di air terjun dan ayek Liem. Lalu kami kembali ke arah jalan balik ke arah pondok. Kami sempat berkali-kali stop untuk sejenak melepas lelah. Sejak keluar dari sungai Liem kami harus menanjaki jalan nan terjal. Aku sempat melihat seekor burung seukuran burung belibis berwarna biru, tapi sayang aku tak berhasil memotretnya. Suaranya masih sangat jelas terdengar sehingga rasa lelahku terobati.
Air terjun Panjang di ayek Liem tepat berada di desa Pulau Pinang kecamatan Pulau Pinang kabupaten Lahat atau berjarak sekitar 20 km dari Lahat. Untuk mencapai air terjun ini tidaklah susah. Dari Lahat ke arah barat atau arah Pagaralam dan ketika sampai di desa Pulau Pinang belok kanan ke arah komplek megalith Tinggi Hari.
Dari simpang ini jalanan mulai menanjak dan berliku. Disebelah kanan jalan bukit dan di sebelah kiri berupa jurang dengan pemandangan sungai Lematang dan persawahan yang menambah indahnya perjalanan. Jalan beraspal yang baru saja diperbaiki menjelang Festival Sriwijaya memudahkan akses menuju ke lokasi ini. Sepuluh menit kemudian terlihat jalan setapak di sebelah kanan dan aku melaju dengan sepeda motorku mengikuti arah yang ditunjukkan. Kami menyusuri jalan setapak yang telah dikeraskan dengan semen oleh masyarakat dari dana PMPN.Jalan setapak ini sangat membantu masyarakat menuju ke kebun-kebun mereka, sehingga mereka dapat mencapai kebun mereka lebih cepat dengan sepeda motor
Untuk menuju air terjun Panjang harus di tempuh dengan berjalan kaki. Maka sepeda motorku, aku titipkan di pondok Asmarudin yang dijaga oleh anaknya sambil menunggu durian jatuh. Dari pondok Asmarudin menuju air terjun dengan berjalan kaki dibutuhkan waktu 40 menit. Sebenarnya bisa di tempuh lebih cepat akan tetapi perjalanan kali ini merupakan perjalanan perintis dimana setiap saat Asmarudin harus menebas semak belukar guna membuka jalan.
Perjalanan kembali ke pondok sempat terhenti beberapa kali karena kami kelelahan dan ketika sampai di pondok segala letih dan lelah terbalaskan dengan sebotol air mineral dan beberapa buah durian yang baru saja jatuh. Durian pertama dibuka, terlihat daging durian berwarna kuning menggoda untuk segera melahapnya. Tak salah, durian pertama sangat enak dan lezat lalu durian kedua,ketiga dan keempat telah kami lahap. Ingin rasanya membuka durian yang kelima tapi hari sudah siang dan kami bergegas menyiapkan diri untuk kembali ke Lahat membawa sejuta kenangan yang tak terlupakan akan pesona ayek Liem dengan air terjun nan indah menggoda mata dan liuk ayek Liem beserta jeram-jeram yang menantang adrenalin.
Air terjun Panjang yang berlokasi tak jauh dari komplek megalith Tinggihari sangat ideal untuk dikembangkan menjadi tujuan obyek wisata yang menjadi satu paket tujuan wisata alam dan wisata budaya megalith. Alam nan asri, hijau, alami dan tanpa polusi sangat menjanjikan untuk didatangi wisatawan bilamana di tata dengan baik dan profesional

Minggu, 27 Januari 2013

Keindahan Dibalik Semak Belukar

    "Awas hati-hati”, demikian   kawan yang berada dibelakangku setengah berteriak  melihat aku terjatuh karena jalan yang  licin dan  terjal dengan kemiringan 45 derajat. Aku segera berdiri dan melanjutkan perjalanan. Aku dan kelima kawanku baru saja berjalan kurang dari 1 km dari desa, kami melewati kebun kopi dengan buah kopi yang telah  merah dan siap untuk dipanen. Lalu perjalanan harus menuruni jalanan terjal kebun durian. Beberapa kali aku harus berpegang erat pada ranting atau akar pohon agar aku tak terjatuh lagi.
Beberapa saat kemudian aku terhenti oleh suara seorang kawan yang berada di depanku. “Nah ada burung rajawali di pohon durian”, dan segera aku berhenti memperhatikan seeokor burung yang bertengger di  sebuah dahan pohon durian. Aku ambil kameraku dan setelah aku lihat lebih dekat dengan kameraku ternyata seekor burung hantu. Tanpa ekpresi dan rasa takut burung hantu ketika kami berada di wilayah mereka atau mungkin dia sedang tidur. Kedatangan kami di pagi nan cerah dihiasi langit biru dan awan seputih kapas dan  sang burung hantu yang menyambut kami menambah indahnya suasana pagi di kebun durian desa Muara Danau.
Kebun durian penuh semak belukar dan  hanya di datangi si empunya setika musim durian saja maka tidak mengherankan ketika tidak masa musim buah kebun durian di sesaki semak belukar dan terkesan tak terpelihara. Di bagian barat  kebun durian terdapat sungai Jambat Akar dimana pada bagian hulunya terdapat air terjun. Karena terdapat di sungai jambat akar maka air terjun  ini disebut Air Terjun Jambat Akar. Dengan ketinggian sekitar 35 m dan bertingkat di bagian atasnya,  air terjun jambat akar terlihat lebih indah, terlebih disekitarnya pepohonan nan hijau masih terpelihara dengan baik. Dibagian bawah tepat jatuhnya air terbentuklah sebuah lubuk akibat derasnya air yang jatuh.
Ketika pertama kali sampai di lokasi ini hanya terdengar gemuruhnya air tanpa terlihat air terjun karena rimbunnya pepohonan di sekitarnya. Untuk dapat melihatnya maka kami harus turun ke sungai dan berjalan menyusuri sungai ke hulu dan keindahan air terjun jambat akar baru dapat di nikmati.
Air terjun jambat akar masih sangat alami dan terlihat sangat jarang pengunjung datang ke sini. Air terjun ini belum pernah terpublikasi bahkan hanya diketahui oleh penduduk sekitar dan hanya sedikit saja yang pernah mengunjunginya. Tidak mengherankan bila keindahan air terjun ini belum di ketahui oleh masyarakat kabupaten Lahat walau letaknya tak jauh dari jalan lintas Lahat Pagaralam dan hanya berjarak 34 km dari Kota Lahat.
Dari jarak sekitar 20 m aku berdiri menatap indahnya air terjun dengan hijaunya dedaunan disekitar dan ketika aku mencoba untuk mengabadikan keindahan air terjun, dedaunan disekitarnya sedikit menghalangi, aku terus mencari angle terbaik. Akupun harus menyeberangi sungai yang tak begitu lebar dan dalam tapi aku tetap hati-hati agar tak jatuh, sedang kawan-kawanku dengan asyiknya berphoto ria di bawah air terjun bahkan satu di antaranya berjalan ke belakang air terjun. Oh....betapa indahnya suasana di sini.Puas sudah rasanya menikmati air terjun jambat akar yang merupakan air terjun pertama yang aku kunjungi di kecamatan Tanjung Tebat atau merupakan air terjun ke 24 di kabupaten Lahat yang aku singgahi dan tak jauh dari sini atau sekitar 2 km ke arah barat aku akan melihat sebuah air terjun lagi yang di yakini lebih besar dari air terjun jambat akar.Kami akhirnya sampai juga di perkebunan kopi di atas air terjun dengan napas yang terengah-engah, segera kuteguk air putih pengobat rasa dahaga dan menyusun tenaga agar aku dapat melanjutkan perjalanan berikutnya. Satu kawanku terbaring di atas tanah tanpa alas dan tak menghiraukan tubuhnya kotor oleh tanah kebun.Lima belas menit melepas rasa lelah sudah cukup untuk menuju destinasi selanjutnya. Kami menyusuri rimbunya pepohonan kopi dengan buahnya yang memerah dan telah siap di panen. Dan 10 menit kemudian kami mendengar gemuruh suara air yang kami yakini suara air terjun tetapi kami belum dapat melihatnya kecuali sebuah air terjun di kejauhan yang berasal dari sungai selangis menuju sungai lematang. Memang tepat dihadapanku terbentang jurang yang sangat terjal dimana mengalir sungai lematang, sedang disebelah kiriku mengalir sungai kesik yang menjadi destinasi kami. Jadi di radius 1 km dari tempat kami berdiri terdapat 4 air terjun dengan ketinggian dan keindahan yang berbeda. Pertama air terjun jambat akar yang baru saja kami kunjungi, kedua air terjun yang berada agak jauh di depan kami berada saat ini yang berasal dari sungai selangis dan dua air terjun lainnya yang berada di sungai kesik yang sedang kami cari keberadaannya.Kami tak mungkin turun dari sini menuju air terjun di sungai kesik karena jurang yang sangat terjal maka kami putuskan untuk berjalan ke arah utara dan mencari jalan terbaik menuju air terjun. Kami masih menyusuri kebun kopi dan suara gemuruh air semakin jelas terdengar tapi kami belum menemukan jalan turun ke air terjun. Kami terus mencoba mencari dan mencari jalan yang tidak terjal tapi kami harus menyusuri tebing terjal yang ditumbuhi pohon bambu dan semak belukar. Kami harus berjalan sedikit merayap dan extra hati-hati karena tepat dibawah adalah jurang dengan batu-batu sungai yang besar. Sebelum sampai di tepi sungai kami harus bergelantungan di akar-akar pohon. Alhamdulillah, demikian kata pertama yang terucap ketika sampai di sungai kesik dan melihat air terjun dengan suaranya yang bergemuruh. Kami masih harus menyusuri sungai untuk dapat melihat lebih dekat keindahan air terjun kesik dan aku harus berjalan menyeberangi sungai dengan mencari aliran sungai yang tak begitu dalam. Dengan berjalan sangat hati-hati aku menyeberangi sungai kecik dengan arus yang cukup deras.>Air terjun kesik dengan ketinggian sekitar 40 m dengan airnya yang cukup deras dan membasahi bagian dinding sebelah selatan air terjun sehingga dinding terjal ini ditumbuhi pepohonan nan hijau yang selalu basah sedang bagian utara air terjun dinding terjal kecoklatan tanpa pepohonan dengan tektur bebatuan tampak jelas dan bekas reruntuhan yang membentuk gunung batu dibawahnya. Bilamana dinding bagian utara tidak runtuh tentu air terjun ini akan tampak lebih tinggi dan lubuknya lebih luas dan dalamAir berwarna kecoklatan mengalir dengan derasnya. Warna coklat tersebut kemungkinan disebabkan dari lumpur yang terbawa arus air dari kebun kopi diatas air terjun. Memang di daerah ini masyarakat hidup dengan bertanam kopi yang telah turun menurun selama puluhan tahun silam dan menjadi sumber penghasilan utama mereka. Kebun kopi mereka pelihara secara baik dengan selalu membersihkan rerumputan yang tumbuh di kebun mereka, bahkan beberapa kebun kopi mereka tanam pula dengan lada hitam di sela-sela pohon kopi.Masyarakat hidup sangat tentram dan damai tanpa adanya gejolak sosial. Mereka hidup berdampingan dan saling membantu seperti membuat irigasi di kebun-kebun mereka dan bilamana satu keluarga mendapat musibah tanpa suatu komando mereka dengan sukarela saling membantu. Maka tidak mengherankan keberadaan air terjun nan indah di desa mereka tidak dimanfaatkan sebagai obyek wisata karena kebutuhan mereka telah terpenuhi dengan hasil kebun kopi dan lada merekaDi sungai kesik terdapat air terjun kesik besar dan air terjun kesik kecil tapi karena medan yang sangat berat sehingga keindahan air terjun kesik kecik tidak dapat kami nikmati. Jarak antar kedua air terjun ini sekitar 200 m dengan arus yang deras. Sedang jarak airPesona keindahan Muara Danau dengan sejumlah air terjun dengan ketinggian yang berbeda, tebing, jurang, pebukitan dengan kebun kopi, kebun lada dan kebun durian terhampar hijau menyejukkan mata, sejumlah aneka fauna seperti burung hantu, monyet ekor panjang, babi dan lainya serta peninggalan prasejarah berupa Arca Manusia Muara Danau atau masyarakat setempat menyebutnya Batu Bute (Buta) akan menjadi daya tarik tersendiri. (By Mario, Traveler ke 200 kota wisata dunia di 100 negara).

Kamis, 17 Januari 2013

Menguak Catatan 1932


Petualangan untuk menguak warisan leluhur tak lengkang oleh zaman dan tak kenal waktu, kapanpun dan dimanapun. Puasa Ramadhan baru berjalan beberapa hari, di siang hari terang bendera di musim kemarau yang panjang, rerumputan, dedaunan dan pepohonan kering kerontang mengharapkan hujan tiba. Walau udara panas menyengat tubuh namun gairah untuk menguak perjalanan waktu tak tergoyahkan. Sepeda motor kupacu menuju sasarannya ke arah ulu Kota Lahat. Jalan yang berkelok dan sedikit bergelombang dengan pepohonan kopi sedikit menambah sejuknya pemandangan selain sungai Lematang dengan airnya yang jernih. Ingin rasanya terjun dan bercengkrama dengan  air Lematang.
Sungai Lematang tak akan luput dari ingatanku, masa kecilku kuhabiskan setiap hari di sungai terbesar di Kabupaten Lahat yang melintasi kota Lahat. Setiap hari selepas pulang sekolah, aku bersama kawan-kawan masa kecil pergi ke sungai Lematang. Kami berenang dan bercanda ria sampai menjelang magrib. Kadang kala hal ini membuat orang tuaku sedikit khawatir. Untuk mengurangi kekhawatiran orang tuaku, aku ambil sedikit minyak sayur dan aku oleskan pada bagian tangan dan kaki agar tidak terlihat seperti baru saja berenang di sungai. Sungai Lematang dan anak-anak sungai lainnya sejak ribuan tahun silam telah menjadi  sumber kehidupan nenek moyang suku bangsa Pasemah. Dari sungai-sungai ini mereka mengisi kehidupan mereka dengan hasil karya seni adi luhung dan monumental tiada tara.
Setelah melintasi jembatan Pulau Pinang dengan panjang sekitar 100 m diatas sungai Lematang dan berbelok ke arah kanan di desa Tanjung Mulak maka, aku harus memacu kendaraanku menaiki tanjakan yang berliku. Jalanan berkelok dan mendaki dengan tebing terjal disebelah kiri dan jurang nan curam disebelah kanan dimana mengalir sungai Lematang dengan airnya nan jernih dan sedikit beriak putih karena berbentur bebatuan. Tikungan dan tanjakan ini disebut Tanjakan Terkul. Pada bagian atas tanjakan ini disebelah kiri jalan terdapat mata air yang tak pernah habis airnya walau di musim kemarau. Maka tidak mengherankan banyak warga yang memanfaatkan mata air ini untuk segala keperluan rumah tangga.
Di ujung Tanjakan Terkul jalanan mulai datar dan sedikit berkelok dan naik turun di desa Lekung Daun. Mungkin karena jalan yang sedikit berkelok dan naik turun di derah ini maka desa ini disebut Desa Lekung Daun. Jalan yang seperti daun yang melengkung. Kemudian jalan berikutnya mulai datar lagi. Cuaca panas di siang hari di musim kemarau sehingga terlihat jelas pepohonan kering begitu juga dengan rerumputan di sepanjang jalan bahkan beberapa titik tepi jalan masih terlihat bekas terbakarnya semak belukar.
Setiba di simpang pertigaan Kota Agung kami  belok kiri ke arah Semendo seperti yang ditulis oleh Van der Hoop tahun 1932 pada bukunya berjudul “Megalithic Remains in South Sumatera”. Dari buku inilah kami berupaya untuk menemukan kembali peninggalan megalitik yang ada di Desa Air Dingin kecamatan Tanjung Tebat.
Setelah sampai di desa kami bertanya kepada kepala desa namum belum mendapat kejelasan lalu bu kades yang ikut nimbrung berkata” ada tinggalan batu megalitik yang disebut Batu Tigas” sambil tangan  bu kades menunjuk sebuah rumah diseberang jalan. Kami segera menuju rumah yang dimaksud, akan tetapi pada rumah yang dimaksud bu kades tidak terdapat orang dan akhirnya kami bertanya pada warga lainnya. Alhasil kami diantar 3 orang anak-anak ketempat yang dimaksud. Setelah melakukan perjalanan selama 20 menit menyusuri kebun kopi dan karet sampailah kami pada seonggok batu yang diselimuti rimbunya semak belukar. Seorang kawan segera membersihkan semak belukar  dengan sebilah parang. Setelah semak belukar terbebas dari batu, kamipun mengeluarkan beberapa argumentasi tentang batu yang baru saja kami lihat. Awalnya kami mempunyai argumentasi yang berbeda tentang bentuk batu yang berada di depan kami. Pada akhirnya kami sepakat bahwa batu ini merupakan figure seorang manusia dengan kepala yang telah hilang tetapi masih terlihat punggung, lengan kanan, lengan kiri, dan tangan kiri. Sedang pada bagian depan adalah seekor kepala kerbau. Kami masih berusaha mengungkap kemungkinan terdapat temuan lainnya. Dan tepat 2 meter dari arca terdapat batu datar.
Mentari semakin turun ke barat dan kamipun bergegas kembali ke desa dengan kegembiraan nan tak terkira. Sesampainya di desa kami bertanya dengan beberapa penduduk tentang batu megalitik yang mereka sebut Batu Tigas. Mereka katakan bahwa kepala arca telah lama hilang, mungkin tahun 40an dan mereka tidak tahu dibawa kemana kepala arca manusia Air Dingin tersebut. Dan juga tidak banyak warga setempat bahkan masyarakat Lahat yang tahu keberadaan batu megalitik yang merupakan peninggalan prasejarah dan mempunyai nilai seni sangat tinggi. Bahkan selama ini belum sama sekali mendapat perhatian dari pihak-pihak yang berwenang dan tidak mustahil bila arca ini terkubur oleh rimbunnya semak belukar tanpa adanya perawatan atau upaya pelestarian. Padahal keberadaan arca ini telah diketahui sejak tahun 1932.

Dengan telah ditemukannya kembali arca manusia Air Dingin maka akan menambah khasanah peninggalan megalitik di daerah Pasemah khususnya Kabupaten Lahat. Dan semakin menguatkan slogan yang selama ini didengungkan oleh Lembaga Kebudayaan dan Pariisata “Panoramic of Lahat” bahwa Lahat merupakan “Bumi Seribu Megalitik”, Bumi yang memiliki peninggalan megalitik terbanyak dan terbaik se Indonesia bahkan seluruh dunia. Semoga dengan temuan ini semua pihak bersama-sama bersatu padu untuk melestarikan peninggalan nenek moyang yang mempunyai nilai budaya sangat tinggi yang tidak ditemukan di banyak tempat dimanapun. Juga dapat dikembangkan menjadi obyek wisata budaya yang akan berdampak positif bagi peningkatan perekonomian masyarakat dan Pemeritah. (By Mario Andramartik, Traveler ke 200 kota wisata dunia).



           

Senin, 14 Januari 2013

BATU BETERI DI KEBUN KOPI

“Disitu dahulunya Desa Tjng. Mulak berada”, demikian Dahlan mengawali ceritanya sambil menunjuk ke arah tiang - tiang rumah dari bahan semen di antara semak belukar dan kebun kopi di pinggir Desa Tanjung Mulak yang terletak tak jauh dari sungai Lematang. Ketika banjir melanda Desa Tanjung Mulak puluhan tahun silam, mereka meninggalkan desa mereka yang diterjang banjir dan berpindah menghuni desa yang saat ini berada di tepi jalan lintas Lahat-Pagaralam yang berjarak sekitar 20 km dari Kota Lahat.
Di desa ini setiap tahun di bulan Mei selalu disesaki masyarakat Lahat yang berbondong-bondong untuk menyaksikan event tahunan Lomba Rakit dan Berayutan. Ketika event tahunan ini digelar, masyarakat dari segala penjuru Lahat berdatangan untuk melihat langsung perlombaan rakit dan berayutan  menyusuri sungai Lematang yang merupakan sungai terbesar di Kabupaten Lahat. Sungai yang kaya akan hasil batu, pasir dan ikannya ini telah dijadikan masyarakat Lahat yang tinggal di sepanjang sungai sebagai sumber kehidupan mereka. Bahkan diyakini sungai ini telah dimanfaatkan sebagai jalur transportasi/ekonomi sejak masa prasejarah yang berkembang pesat di dataran tinggi Pasemah (Kabupaten Lahat sebelum pemekaran).
Akhir-akhir ini di lokasi start lomba rakit dan berayutan juga dimanfaatkan oleh kelompok penggiat rafting yang ada di Lahat sebagai tempat start  rafting. Hampir setiap minggu lokasi ini selalu dibanjiri penggila rafting yang bukan saja datang dari Lahat bahkan dari luar Lahat. Olahraga rafting yang telah menjadi salah satu wisata air di sungai kebanggaan masyarakat Lahat saat ini sedang digandrungi berbagai lapisan masyarakat bahkan pejabat di Kabupaten Lahat. Tentu hal ini akan mengairahkan hidupnya wisata di sungai Lematang.
Dibalik semua event yang diadakan di Desa Tanjung Mulak, tidak banyak masyarakat Kabupaten Lahat yang mengetahui potensi lainnya yang terdapat di Desa Tanjung Mulak. Desa yang secara geografis terletak di tepi  sungai dan di kaki bukit ini menyimpang sejuta pesona alam dan budaya yang tinggi.
“Bisa saja kita pakai sepeda motor lewat jalan ini, sepanjang jalan dari desa sampai kebun kami di seberang sungai Mulak sudah di semen” begitu Dahlan melanjutkan ceritanya. “ Kalau kamu berani pakai sepeda motor menyeberangi jembatan gantung ini perjalanan kita lebih cepat” kata Dahlan ketika kami menyeberangi jembatan gantung beralas papan-papan kayu yang diikatkan pada 2 seling kawat baja dan diperkuat dengan 2 seling kawat baja lainnya dibagian atas. Jembatan gantung dengan lebar sekitar 1 m dan panjang 100 m sempat bergoyang-goyang ketika kami berada di tengah jembatan. Untuk yang belum pernah menyeberangi jembatan gantung seperti ini dibutuhkan nyali yang besar, kalau tidak bisa berjalan merayap bak seorang bayi yang baru belajar merangkak.
Setelah melewati jembatan gantung sungai Mulak  yang bermuara ke sungai Lematang, perjalanan mulai menanjak. Dan baru 5 menit meninggalkan jembatan gantung kami berhenti sejenak untuk melepas lelah karena satu diantara kami sudah kelelahan. Tak berapa lama kemudian pejalanan kami lanjutkan melewati jalan setapak yang menanjak dan sedikit berliku. Sepanjang jalan ini berupa semak belukar dan tak terlihat perkebunan penduduk. Kami menjumpai perkebunan kopi atau karet setelah kami berada di daerah yang sedikit datar.
Dan untuk kedua kalinya kami berhenti lagi melepas lelah tepat di bawah rindangnya   pohon-pohon karet yang sudah mulai dipanen getahnya. Kami baru menempuh setengah perjalanan dari total perjalanan yang harus kami tempuh. Sambil duduk di bawah pohon karet kawan-kawanku membuka botol air mineral untuk membasahi tenggorokan  dan menambah sedikit energi untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.
Merasa cukup melepas lelah kami teruskan perjalanan menyusuri jalan setapak dengan kebun karet dan kopi nan hijau di sepanjang jalan. Suara merdu burung-burung bernyanyi menghibur indahnya perjalananan. Jalan yang kami lalui berupa dataran kebun kopi dan karet di ketinggian 294 mdpl dibagian utara sungai Lematang. Daerah ini merupakan perbatasan kecamatan Pulau Pinang dan Pagar Gunung.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit kami memasuki perkebunan kopi milik Jalal. Ditengah kebun milik Jalal dengan luas sekitar 1 ha terdapat sekelompok batu-batu yang mempunyai nilai budaya sangat tinggi. Disini terdapat budaya megalitik berupa arca manusia menunggang kerbau, arca manusia tanpa kepala, batu datar, menhir dan beberapa tetralith yang menyebar di kebun ini. Batu-batu yang berada di situs  ini oleh masyarakat setempat di sebut dengan Batu Beteri.
Dari temuan yang ada dimungkinkan situs Batu Beteri merupakan sebuah kampung megalitik. Dari berbagai artikel belum pernah menyebutkan adanya tinggalan megalitik di daerah ini, maka suatu kebanggaan tersendiri dapat menemukan kembali tinggalan budaya yang jauh tersembunyi. Menurut penuturan Dahlan yang memandu perjalanan kami memang belum ada orang luar yang berkunjung kesini. “Masyarakat desa sini saja sangat jarang yang pernah melihat tinggalan megalitik ini, apalagi orang luar” demikian yang disampaikan Dahlan.
Memang masih banyak tinggalan prasejarah berupa bangunan megalitik di Kabupaten Lahat yang belum diketahui masyarakat luas. Semoga dengan telah ditemukannya kembali tinggalan megalitik di Desa Tanjung Mulak Kecamatan Pulau Pinang akan mendapat respon positif dari semua pihak yang berkepentingan dan bertanggung jawab terhadap bangunan megalitik serta dapat juga dijadikan sebagai salah satu aset wisata budaya.
Penemuan ini semakin menguatkan slogan yang telah didengungkan Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata “Panoramic of Lahat” bahwa Kabupaten Lahat merupakan “Bumi Seribu Megalitik”. Dan telah terbukti sampai saat ini di Kabupaten Lahat telah ditemukan ribuan megalitik di 41 situs yang tersebar di beberapa kecamatan. Hal ini membuktikan bahwa pada masa prasejarah masyarakat Lahat telah mengenal kebudayaan yang tinggi. Suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Lahat dan semoga kebanggaan ini dibarengi dengan upaya pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya sebagai tujuan wisata yang berdampak positif bagi peningkatan perekonomian masyarakat di sekitarnya dan pendapatan daerah berupa pajak dan distrubusi. (By Mario,Traveler ke 200 kota wisata dunia).

Dimuat di koran Lahat Pos tanggal 11 Januari 2013

Rabu, 05 Desember 2012

Menari di Air Manna : Menembus Jeram Perawan Lahat

Menari di Air Manna
Menembus Jeram Perawan Lahat

Mirip - Bisa disimpulkan, karakteristik jeram Air Manna hampir mirip Sungai Asahan di Sumatera Utara. Arusnya cenderung agresif dan liar. Di musim hujan, bentukan sungainya bisa menciptakan rangkaian standing waves panjang dan saling terhubung (atas).

Kembali ke alam, apa pun bentuknya, selalu menjadi momen paling menyenangkan. Alasan itu juga yang memacu saya untuk melawat ke Desa Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat - Sumatera Selatan ini. Selama dua hari, saya dan beberapa rafters (pengarung jeram) coba menjajal ketangguhan jeram-jeram Sungai Air Manna yang bercokol di kelebatan rimba. Seperti wilayah pinggiran Sumatera lainnya, empat jam perjalanan Lahat - Tanjung Sakti itu penuh kelokan tajam. Sesekali, terlihat jurang menganga. Tapi di lain waktu, tampak kuning padi meliuk-liuk di antara nuansa hijau belantara raya dan hamparan perkebunan kopi yang lama-kelamaan semakin mendominasi pemandangan.

Setibanya di Tanjung Sakti, kami langsung bersua dengan Erwin Gumay, penggiat alam bebas dari Lahat. Kedatangan kami juga disambut senyum ramah penduduk setempat yang menyongsong di muka dusun. Bahkan, Drs. Lukman Panggarbesi, camat desa itu berada di antara mereka. Uniknya, ia sendiri pun rela bergabung dan siap memandu kami melakukan survei jeram siang hari itu juga. Sebagai aktivitas pra-pengarungan, kegiatan pertama itu hanya berkutat pada penelusuran data-data sungai. Mulai dari pencarian entry point, menandai bentukan dan tingkat kesulitan jeramnya, hingga ke soal penentuan jalur bagi tim darat yang akan mengiringi selama pengarungan.

Tentu, bukan perkara enteng melakukan hal itu. Memburu entry point yang mudah kami jangkau dari tepi jalan setapak penduduk, misalnya. Terpaksa golok dan parang dikeluarkan demi menerabas kepungan hutan perawan nan lebat ini.Herannya, sepanjang menyi-sir lembah penuh onak duri, tak tampak satu pun bekas tebangan liar. Yang pasti, sejauh pengamatan mata dan atas informasi penduduk setempat yang saya peroleh, hutan yang mengepung sungai ini masih sangat alami dan terjaga keasliannya. Dan tampaknya, baik penebang maupun para cukong kayu dari kota-kota besar masih "silap mata" dengan kelestarian itu.

Terbukti, selama puluhan tahun, hujan lebat tak pernah menjadikan penduduk wilayah ini kerepotan dengan musibah banjir dan longsor. Bagi peminat arung jeram, tentu saja menguntungkan, sebab debit air sungai yang berhulu di Gunung Dempo (3.159 mdpl) ini tak pernah surut, kendati di musim kemarau seperti sekarang.

Hari Pertama
Sehari usai pendataan, ihwal kehebatan Air Manna total terbukti. Di hari pertama, kami membagi dua etape pengarungan. Etape pertama bermula dari dusun Sindang Panjang (desa Tanjung Sakti) hingga dusun Gunung Kerto. Etape selanjutnya berlangsung di antara jeram-jeram dusun Gunung Kerto dan berakhir di dusun Simpur. Total 19 kilometer yang akan ditempuh hari ini.

Bara semangat kepalang berkobar di dada, pantang untuk mundur. Apalagi, saya, Dompi, Jack, Erwin Gumay dan rekannya, Andi, sudah bersiap dalam posisi mendayung. Maka, selepas doa bersama, dayung pun dikayuh. "Majuu...!" aba-aba Jack. Belum jauh jarak perahu dari tepi sungai. Mendadak, kesialan menimpa. Saat perahu melabrak jeram pertama, benda karet itu berguncang hebat. Sialnya, pijakan kaki saya kurang mantap, alhasil, tubuh saya limbung seketika dan terlempar dari perahu.

Untunglah, di antara derasnya gelombang standing waves (jeram berbentuk ombak berdiri) tersebut, Andi masih bisa meraih tangan saya. Sigap. Tapi selanjutnya, malah gantian dia yang bernasib serupa. Kendati selamat, pemuda kelahiran Lahat ini sempat dua kali timbul tenggelam dipermainkan buih-buih jeram. Sampai menjelang akhir etape satu, kami belum merasakan rintangan yang berarti. Kecuali satu buah jeram besar berbentuk penurunan (drop) setinggi satu meter. Sesuai aba-aba Jack, perahu masuk perlahan ke mulut jeram itu. Tepat, begitu mulut jeramnya habis, kayuhan semakin diperkuat untuk menghindari hisapan arusnya ke tebing. Perahu lolos.

Pengarungan terasa makin seru, saat memasuki dusun Gunung Kerto. Aliran Air Manna menyatu dengan Air Suka Merindu. Akibatnya debit air menjadi lebih tinggi. Ini terbukti dengan standing wave yang dari jauh terlihat biasa saja, ternyata malah sebaliknya. Besar dan menyeramkan, membuat bentuk perahu seolah mengecil.

Selepas jeram itu, perahu menepi untuk rihat. Puas menjerang rihat, pengarungan kembali berlanjut. "Siapkan konsentrasi penuh, kita tak tahu ada apa di depan," komando Jack, seraya mulai mendayung. Betul saja. Satu lidah riam menyambut, berbuih dan sangat menantang. Terbentuk dari dua buah jeram hydraulic (terbentuk karena aliran vertikal). Demi memperoleh siasat untuk melaluinya dengan gemilang, kami melakukan scouting (pengintaian jeram) di tepi sungai berbatu. "Kita ambil jalur kanan. Usahakan jangan sampai ada yang jatuh," tukas skipper (juru kemudi) kami itu, lantang.

Kiranya, inilah saat paling tepat membentrokkan nyali dan rasa takut yang porsinya sudah tak jauh berbeda. Maka, perlahan dayung dikayuh, seiring aba-aba Jack mengarahkan perahu masuk ke dalam amukan jeram itu. Dalam hitungan detik, saya sulit mengingat apa-apa lagi. Yang ada, hanya berkonsentrasi penuh mendengar arahan skipper, sambil mendayung cepat laksana kemasukan setan.

Mendebarkan, memang. Apalagi, saat saya mengetahui, perahu kami gagal menghindari jalur kanan yang pertama. Karena perahu miring 45 derajat, Dompi dan Andi terlempar ke luar. Nyaris, Jack pun ikut terlempar dan dilalap air. Tapi dengan kesigapan tinggi ia bisa menghindarinya. Di tengah situasi kacau balau, Erwin yang duduk di sebelah saya terjerembab ke bagian dalam perahu. Tak ayal, posisi perahu menjadi kurang seimbang, bisa terbalik. Terpaksa, agar itu tidak terjadi, saya mengimbangi berat perahu dengan berpindah posisi ke bagian kanan.

Hari Kedua
Memasuki hari kedua, tingkat kesulitan sedikit berkurang. Kendati begitu, pengarungan di sepanjang rute Dusun Simpur hingga desa Pulau Timun itu tetap berjalan seru dan menegangkan.
Kebanyakan jeram di 10 kilometer rute tersebut hanya berkisar pada standing waves. Kami pun banyak berjumpa patahan sungai yang tingginya bisa melebihi satu setengah meter atau lebih. Hanya Jeram Lubuk Sibayang, sebuah jeram yang sempat membuat otak kami lama berputar untuk menentukan jadi atau tidaknya diarungi.

Bentuk Lubuk Sibayang berupa patahan setinggi 1,5 meter. Tepat di depannya, sebuah batu besar sudah siap menghadang laju perahu. Jika stag di situ, risikonya bisa terbalik, Maka, bersiaplah diempas rangkaian standing waves yang jaraknya pun tak berjauhan dengan patahan tersebut. Nasib baik, lagi-lagi, masih berpihak pada tim perahu. Perlahan dan penuh kewaspadaan mereka menyongsong lidah jeramnya. Dan, begitu melewati patahan itu, mereka lantas mendayung kuat, sehingga benda karet itu tak sampai tertahan di batu.

Menjelang petang, tim tiba perahu di lokasi finish dusun Pulau Timun. Saya, Armen, dan Ican yang menjadi tim darat, tercengang menyaksikan kerumunan penduduk. Tampaknya, mereka tak sabar lagi ingin menyaksikan "pemandangan" tak lazim di dusun mereka yang terpencil itu.
Malamnya, dalam suasana keluarga desa nan damai di pelukan rimba belantara, kami menghabiskan waktu. Bercengkerama ihwal ketegangan-ketegangan yang kami alami selama dua hari ini. (m. latief)

Copyright © Sinar Harapan 2003

Pesona Tanjung Sakti


Pesona Tanjung Sakti

"Wah sayang sekali, sumber air panas ini belum dimanfaatkan secara maksimal, misalnya dibuat kolam pemandian", kata seorang kawan yang melihat kondisi sumber air panas di bawah jembatan di desa Pajar Bulan kecamatan Tanjung Sakti Pumi. Tak berapa lama kami berada di tepi sungai Manna tepat di bawah jembatan, beberapa saat kemudian datanglah 2 orang pemuda seorang berusia 14 tahun dan seorang lagi berusia 20 tahun membawa 2 ekor ayam ke tepi sungai yang berjarak hanya 2 meter dari kami.
Kamera kesayanganku masih dalam peganganku setelah aku melakukan beberapa jepretan ke sumber air panas. Ketika aku menoleh ke arah dua pemuda tersebut, ternyata mereka akan menyembelih2 ekor  ayam. Ayam pertama telah mereka potong dan mereka injak agar tak lepas kesungai, begitu pula dengan ayam kedua. Setelah kedua ayam tersebut mati mereka masukan k2dua ayam tersebut kedalam sumber air panas yang bersuhu lebih kurang 100 derajat celcius, kemudian mereka bersihkan ayam tersebut di tepi sungai. Sedang seorang kawan yang datang bersamaku membawa beberapa telur dalam plastik hitam yang hendak dia rebus dalam sumber air panas. Tidak lebih dari 10 menit, telur-telurpun telah masak dan siap untuk dimakan.
Demikianlah rupanya masyarakat disekitar sumber air panas yang terletak dibawah jembatan sungai manna, mereka manfaatkan untuk merebus telur atau membersihkan ayam. Tidak heran ketika aku pertama kali turun ke tepi sungai terdapat banyak darah yang masih segar, mungkin beberapa waktu yang lalu ada orang yang menyebelih ayam disini. ”Kalau saja ini di Jawa tentu sudah jadi tempat pemandian yang mendatangkan uang” ujar kawanku lainnya yang berada disampingku.
Aku masih dengan kameraku dan merekam setiap sudut air panas dibawah jembatan yang sudah dikenal masyarakat kabupaten Lahat sejak lama. Sumber air panas di Tanjung Sakti ini layak dijadikan tempat tujuan wisata kalau saja dikelola secara serius yang akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
Dari sumber air panas ini kami putar balik dan menuju sebuah gereja. Gereja di desa Pajar Bulan kec.Tanjung Sakti Pumi konon merupakan gereja tertua di Sumatera Selatan, dibangun oleh misionaris sejak jaman kolonial dulu. Gereja berdinding kayu bercat warna putih, dengan dinding batu setinggi 2 meter, beratap seng dan memiliki menara setinggi sekitar 15 meter. Sedang disebelah kiri gereja terdapat sebuah bangunan kayu berlantai dua beratap seng dan berjendela kaca. Bangunan ini dibiarkan tanpa cat dan terkesan tua. Gereja dan bangunan disebelahnya yang telah berusia lebih dari 50 tahun merupakan juga asset wisata yang terletak sangat dekat dengan sumber air panas.
Hanya beberapa ratus meter dari gereja tua, tepatnya di depan rumah dinas camat Tanjung Sakti Pumi terdapat sebuah gang yang telah di semen, kami menyusuri gang dengan lebar sekitar 1,5 m. Dan 300 m kemudian terdapat area pemakaman, disebelah barat pemakaman ini terngonggok 6 batu yang disebut masyarakat setempat sebagai “Batu Tiang Enam”. Saat ini kondisi Batu Tiang Enam ditumbuhi semak belukar dan sangat sulit untuk mengambil gambar ke 6 batu secara keseluruhan karena terhalang semak belukar dan pohon bambu. Kondisinya sangat tidak terawat.
Ketiga obyek wisata yang terletak di desa Pajar Bulan kec.Tanjung Sakti Pumi telah lama di ketahui masyarakat Kab.Lahat namun karena beberapa hal sehingga tidak berkembang bahkan dilupakan orang,terlihat dari kondisi seperti Batu Tiang Enam yang sangat memprihatinkan dan sumber air panas yang belum sama sekali disentuh.
Selain ketiga obyek wisata tersebut juga terdapat sebuah air terjun yang terdapat di desa Jambat Tiang Batu. Letak air terjun sekitar 300 m dari jalan lintas PagarAlam –Tanjung Sakti. Jalan menuju ke air terjun hanyalah jalan tanah yang tidak terjal, sehingga mudah dijangkau. Air terjun ini disebut “Air Terjun Pemandian Ratu”. Menurut penuturan seorang kawan lokasi ini belum lama dibuka. Air terjun dengan lebar 4 m dan tinggi 8 m cukup deras airnya, terdapat lubuk dibawahnya sehingga dijadikan penduduk untuk mencari ikan.Disekitar air terjun terdapat perkebunan kopi yang juga dijadikan sebagai mata pencarian utama penduduk daerah ini.
Tanjung Sakti Pumi yang berjarak 33 km dari Pagar Alam sebelumnya merupakan satu kecamatan dan saat ini terbagi menjadi dua,yakni Tanjung Sakti Pumi dan Tanjung Sakti Pumu.Jalan menuju ke kecamatan ini  sangat memadai selain lebar juga dalam kondisi baik terpelihara.Jalan yang berkelok dan sedikit naik turun malah menambah keindahan dalam perjalanan.Tapi sejumlah jembatan masih dalam ukuran cukup untuk satu kendaraan roda empat,untuk itu bagi yang berkendaraan roda empat harus hati-hati bila melintasi jembatan.
Harapan kita bersama kelak pesona Tanjung Sakti dapat dikembangkan menjadi tempat tujuan wisata minimal untuk masyarakat kab.Lahat dan sekitarnya.
By mario
Wah sayang sekali ya belum di manfaatkan secara maksimal,misalnya dibuat kolam pemandian ,kata seorang kawan yang melihat kondisi sumber air panas di bawah jembatan di desa Pajar Bulan kecamatan Tanjung Sakti Pumi. Tak berapa lama kami berada di tepi sungai Manna tepat di bawah jembatan, datanglah 2 orang pemuda seorang berusia 14 tahun dan seorang lagi berusia 20 tahun membawa 2 ekor ayam ke tepi sungai yang berjarak hanya 2 meter dari kami.
Kamera kesayanganku masih dalam peganganku setelah aku melakukan beberapa jepretan ke sumber air panas. Ketika aku menoleh ke arah dua pemuda tersebut, ternyata mereka akan menyembelih ayam. Ayam pertama telah mereka potong dan mereka injak agar tak lepas kesungai, begitu pula dengan ayam kedua. Setelah kedua ayam tersebut mati mereka masukan kedalam sumber air panas yang bersuhu lebih kurang 100 derajat celcius, kemudian mereka bersihkan ayam tersebut di tepi sungai. Sedang seorang kawan yang datang bersamaku membawa beberapa telur dalam plastik hitam yang hendak dia rebus dalam sumber air panas. Tidak lebih dari 10 menit, telur-telurpun telah masak dan siap untuk dimakan.
Demikianlah rupanya masyarakat disekitar sumber air panas yang terletak dibawah jembatan sungai manna, mereka manfaatkan untuk merebus telur atau membersihkan ayam. Tidak heran ketika aku pertama kali turun ke tepi sungai terdapat banyak darah yang masih segar, mungkin beberapa waktu yang lalu ada orang yang menyebelih ayam disini. ”Kalau saja ini di Jawa tentu sudah jadi tempat pemandian yang mendatangkan uang” ujar kawanku lainnya yang berada disampingku.
Aku masih dengan kameraku dan merekam setiap sudut air panas dibawah jembatan yang sudah dikenal masyarakat kabupaten Lahat sejak lama. Sumber air panas di Tanjung Sakti ini layak dijadikan tempat tujuan wisata kalau saja dikelola secara serius yang akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
Dari sumber air panas ini kami putar balik dan menuju sebuah gereja. Gereja di desa Pajar Bulan kec.Tanjung Sakti Pumi konon merupakan gereja tertua di Sumatera Selatan, dibangun oleh misionaris sejak jaman kolonial dulu. Gereja berdinding kayu bercat warna putih, dengan dinding batu setinggi 2 meter, beratap seng dan memiliki menara setinggi sekitar 15 meter. Sedang disebelah kiri gereja terdapat sebuah bangunan kayu berlantai dua beratap seng dan berjendela kaca. Bangunan ini dibiarkan tanpa cat dan terkesan tua. Gereja dan bangunan disebelahnya yang telah berusia lebih dari 50 tahun merupakan juga asset wisata yang terletak sangat dekat dengan sumber air panas.
Hanya beberapa ratus meter dari gereja tua, tepatnya di depan rumah dinas camat Tanjung Sakti Pumi terdapat sebuah gang yang telah di semen, kami menyusuri gang dengan lebar sekitar 1,5 m. Dan 300 m kemudian terdapat area pemakaman, disebelah barat pemakaman ini terngonggok 6 batu yang disebut masyarakat setempat sebagai “Batu Tiang Enam”. Saat ini kondisi Batu Tiang Enam ditumbuhi semak belukar dan sangat sulit untuk mengambil gambar ke 6 batu secara keseluruhan karena terhalang semak belukar dan pohon bambu. Kondisinya sangat tidak terawat.
Ketiga obyek wisata yang terletak di desa Pajar Bulan kec.Tanjung Sakti Pumi telah lama di ketahui masyarakat Kab.Lahat namun karena beberapa hal sehingga tidak berkembang bahkan dilupakan orang,terlihat dari kondisi seperti Batu Tiang Enam yang sangat memprihatinkan dan sumber air panas yang belum sama sekali disentuh.
Selain ketiga obyek wisata tersebut juga terdapat sebuah air terjun yang terdapat di desa Jambat Tiang Batu. Letak air terjun sekitar 300 m dari jalan lintas PagarAlam –Tanjung Sakti. Jalan menuju ke air terjun hanyalah jalan tanah yang tidak terjal, sehingga mudah dijangkau. Air terjun ini disebut “Air Terjun Pemandian Ratu”. Menurut penuturan seorang kawan lokasi ini belum lama dibuka. Air terjun dengan lebar 4 m dan tinggi 8 m cukup deras airnya, terdapat lubuk dibawahnya sehingga dijadikan penduduk untuk mencari ikan.Disekitar air terjun terdapat perkebunan kopi yang juga dijadikan sebagai mata pencarian utama penduduk daerah ini.
Tanjung Sakti Pumi yang berjarak 33 km dari Pagar Alam sebelumnya merupakan satu kecamatan dan saat ini terbagi menjadi dua,yakni Tanjung Sakti Pumi dan Tanjung Sakti Pumu.Jalan menuju ke kecamatan ini  sangat memadai selain lebar juga dalam kondisi baik terpelihara.Jalan yang berkelok dan sedikit naik turun malah menambah keindahan dalam perjalanan.Tapi sejumlah jembatan masih dalam ukuran cukup untuk satu kendaraan roda empat,untuk itu bagi yang berkendaraan roda empat harus hati-hati bila melintasi jembatan.
Harapan kita bersama kelak pesona Tanjung Sakti dapat dikembangkan menjadi tempat tujuan wisata minimal untuk masyarakat kab.Lahat dan sekitarnya.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Pemkab Lahat koleksi 3.000 temuan megalit terbesar

Lahat, Sumsel (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, hingga 2012 sudah mengoleksi sekitar 3.000 temukan megalit tersebar di 12 kecamatan dengan berbagai macam bentuk, seperti batu tulis, arca, tempat persembahan dan peralatan.

"Kalau jumlah keseluruhan megalit ditemukan diperkirakan mencapai 3.000, sedangkan terdaftar resmi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Arkeologi dan BP3 Jambi mencapai 1.000 megalit, inilah yang menjadikan Lahat mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri), dalam kategori daerah yang paling banyak penemuan situs megalit," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lahat, Rechnawati, Kamis.

Menurut dia, daerah sebaran penemuan berbagai benda bersejarah meliputi Kecamatan Jarai, Pajarbulan, Kota Agung, Tajungtebad, Gumay dan ada beberapa tempat lainnya.

Keberadaan megalit di Kabupaten Lahat, sudah terkenal sejak zaman Belanda dan bahkan pernah dilakukan penelitian sejumlah ilmuwan dari berbagai negara seperti Belanda, Jerman dan Amerika Serikat.

Rechnawati mengatakan, peninggalan sejarah di wilayah Lahat bukan saja cukup banyak, dan bahkan kaya akan variasi dan bentuknya.

Dia mencontohkan, ada jenis arca, kubur batu, lesung batu, lumpang batu, dolmen, menhir dan batu datar.

"Benda bersejarah itu, bisa juga dijadikan sebagai simbul dan peralatan bagi nenek moyang zaman dahulu seperti alat mengolah makanan lesung dan lumpang batu, kemudian adanya titralith sebagai tempat persidangan dan bermusyawarah," ungkap dia.

Peninggalan bersejarah yang diperkirakan berumur lebih dari 3.000 hingga 4.000 tahun tersebut jumlahnya mencapai ribuan, tersebar di 12 kecamatan dan bentuknya cukup unik," kata dia lagi.

Nantinya penyerahan penghargaan Muri penemuan megalit itu, kata Rechnawati, akan langsung diterima Bupati Lahat Saifudin Aswari Rivai, pada malam pembukaan Festival Sriwijaya XX Sumsel tanggal 15 Oktober 2012.

"Kami sudah menyerahkan semua dokumen yang diperlukan kepada pihak pemberi penilaian penghargaan Muri di Semarang Jawa Tengah," ungkap dia.

Tim Muri hanya tinggal memeriksa situs megalit yang sudah didaftarkan dengan mendatangi satu per satu, untuk dilakukan penghitungan ulang.

"Nantinya kami siap mendampingi tim Muri untuk mendatangi berbagai lokasi penemuan megalit, sekaligus mempromosikan wisata sejarah di Kabupaten Lahat," katanya.

Sementara itu Balai Arkeologi Palembang, Kristantina Indriastuti mengatakan, pada penelitian tahun 2010 Balai arkelogi dan BP3 Jambi bahkan sudah menemukan 191 batu megalit di Desa Talang Pagaragung dan Kecamatan Pajarbulan, belum lagi pada penelitian sebelumnya dan lokasi lain.

"Kalau didata secara keseluruhan yang sudah ditemukan bisa mencapai ribuan dengan penyebaran di beberapa kecamatan, dan bahkan di satu lokasi saja terdapat ratusan jumlahnya dalam berbagai jenis," kata dia.

Penelitian dan pendataan dilakukan Balai dan BP3 Jambi dengan menemukan batu megalit dalam berbagai jenis, seperti tetralith, batu datar, dolmen, lumpang batu, lesung batu, batu gelang dan bilik batu.

Peninggalan sejarah yang sudah berumur ribuan tahun ini ditemukan ada di sekitar perkampungan penduduk, kebun kopi dan persawahan termasuk hutan belantara.

"Memang selama ini daerah Lahat, Pagaralam dan Empatlawang cukup banyak terdapat penemuan sejumlah peninggalan bersejarah dan benda cagar budaya, karena dahulunya daerah tersebut merupakan perkampungan manusia purba," ujarnya. (AS*M033/Z002)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012